BERSATU DALAM KASIH (Renungan hari Selasa, 26 Mei 2020, Paskah VII) PW. Philipus Neri. Yohanes 17:1-11a.

Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu (Yoh 17:9)

Para sahabat GPS yang dikasihi Kristus.

Pada masa pandemi covid-19 ini, kita dapat merasakan kasih yang semakin hari semakin bertumbuh subur. Pemerintah, lembaga agama, lembaga sosial, kampus, dan masyarakat bersatu padu mengkampanyekan physical distancing, PSBB, serta pola hidup sehat. Selain itu, aneka tindakan karitatif, seperti membagikan sembako bagi orang yang sangat membutuhkan, berjalan dengan baik.

Wabah kali ini mengajarkan kita pentingnya membangun persatuan dalam kasih. Kasih kepada diri hanya bisa tercapai, kalau kita juga mengasihi sesama.

Persatuan dalam kasih inilah yang membuat kita tidak pernah berpisah dengan Kristus yang telah naik ke surga. Yohanes menginformasikan bahwa Yesus tiada henti-hentinya berdoa bagi kita. Dan inti doa Yesus adalah agar kita bersatu, seperti Allah Tritunggal Mahakudus yang selalu bersatu dalam kasih.

Salah satu buah doa Yesus bagi Gereja-Nya adalah Gereja tidak kehabisan orang yang mencintai persatuan dalam kasih. Salah satunya, St. Philipus Neri.

St. Philipus Neri, seorang imam sederhana. Dia sangat dekat dengan orang muda. Kasihnya kepada Kristus. serta cintanya kepada panggilan hidupnya diungkapkannya dengan membina generasi muda menjadi orang yang mampu bersatu dalam kasih dan hanya mengasihi Kristus.

Para sahabat GPS yang terkasih.

Pada masa pandemi ini, kita semua diundang untuk bersatu dalam kasih. Dalam kasih, kita melihat sesama sebagai bagian dari diri. Dalam kasih, kita bersatu dengan Kristus. Dalam kasih, Yesus tiada henti-hentinya berdoa agar kita bersatu dalam kasih.

PEMENANG HANYA ADA DALAM DIRI ORANG YANG SETIA (Renungan Senin Paskah VII, 25 Mei 2020) YOHANES 16:29-33

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:33)

Para sahabat GPS yang terkasih.

Santo Antonius dari Padua pernah mengatakan, “Allah tidak pernah usai berupaya, menjadi Bapa bagi anak-anak-Nya.” Pernyataan ini mau membahasakan kasih Allah yang tidak pernah setop mengalir bagi kita. Allah senantiasa menunjukkan kasih-Nya dalam sejarah hidup manusia. Bahkan, Ia sendiri menjadi Manusia untuk mengantar manusia dari dosa kepada keselamatan.

Bacaan Injil hari ini, secara tidak langsung membuat dikotomi yang jelas antara kasih manusia dengan kasih Allah. Bagi Yesus, kasih manusia sangat dangkal. Mudah goyak ketika datang aneka tantangan dan penderitaan. Hal ini sangat berbeda dengan kasih Kristus yang tidak pernah berubah, meskipun ditantang dengan penderitaan salib. “Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu dicerai-beraikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.” (Yoh 16:32)

Lebih dari itu, Yesus, dalam bacaan Injil hari ini, mengajak kita untuk mengandalkan-Nya dalam perjalanan hidup kita. Sebab, Dia telah mengalahkan tantangan dunia, bukan dengan perang, tetapi dengan kasih yang tidak pernah berubah.

Para sahabat GPS yang terkasih.

Tantangan kita saat ini adalah virus korona. sebagaimana Allah Bapa setia mendampingi Putra-Nya dalam penderitaan, Allah juga setia mendampingi kita dengan kasih-Nya yang sempurna pada masa pandemi ini. Yakinlah, siapa yang memberi hati, pikiran, perkataan, dan perilaku hidup dituntun oleh Allah akan keluar dari aneka penderitaan sebagai pemenang. SEMOGA.

MINTALAH MAKA KITA AKAN MENERIMANYA (Renungan Hari Sabtu Paskah VI, 23 Mei 2020). INJIL YOHANES 16:23b-28

Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. (Yoh 16:24)

Para sahabat GPS yang terkasih.
Pada masa pandemi covid-19, para medis, tindakan medis, dan protokol kesehatan menjadi pilihan utama kita dalam tindakan preventif dan kuratif. Pada titik ini, profesi apa pun dalam dunia medis menjadi garda terdepan sebagai penyelamat umat manusia saat ini. Dan itu terbukti, penderita covid-19 hanya bisa sembuh dengan pengobatan medis.

Dalam sejarah keselamatan dan kaca mata iman Kristiani, kita juga memiliki Seorang Dokter Utama yakni Tuhan kita Yesus Kristus. Dia pernah menyembuhkan penderita kusta. Dia pernah memelekan mata orang buta dan menyembuhkan orang lumpuh. Selain itu, Dia juga pernah melakukan tindakan yang tidak pernah dilakukan oleh para dokter hingga saat ini, seperti mengusir roh jahat dari penderita dan menghidupkan orang mati.

Kisah Yesus, Sang Dokter, dalam keempat Injil, mau mengatakan kepada kita, bahwa dalam masa pandemi covid-19 ini, selain kita mengikuti protokol kesehatan dan berbagai tindakan medis, kita diundang untuk tetap memeliharan iman, pengharapan, dan kasih kita pada Yesus Kristus.

Mungkin sampai saat ini, ada dari antara kita yang belum meminta atau masih ragu-ragu meminta kepada-Nya. Yesus, dalam Injil Yohanes katakan, “Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” (Yoh 16:24)

Para sahabat GPS yang terkasih. Marilah kita meminta kepadanya sesering mungkin dalam doa. Kita yakin, Tuhan akan mengubah segalanya menjadi baik kembali.

YESUSLAH ALASAN KEBAHAGIAAN KITA (Renungan hari Jumat, Paskah VI, 22 Mei 2020). YOHANES 16:20-23a

Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu. (Yoh 16:22)

Paus Fransiskus memberkati foto Santo Uskup Oscar Romero

(Foto: Paus Fransiskus memberkati lukisan Santo Oscar Romero, Uskup)

Para sahabat GPS yang terkasih.
Pater Dr. Georg Kirchberger, SVD, pada sampul depan bukunya yang berjudul “Allah Menggugat” menulis begini, “Tugas kita bukan menjinakan kabar Allah, hingga Ia tidak menyakiti lagi, melainkan untuk diperdengarkan secara jelas dan tajam”.

Pernyataan tersebut mau mengajak kita, para gembala terbaptis dan para gembala tertahbis untuk mengindahkan gugatan Allah atas cara hidup dunia yang jauh dari kebaikan dan kebenaran hidup. Bukan untuk membangun zona aman bagi diri.

Dalam kerangka berpikir seperti inilah, suara Gereja yang sering menolak pertambangan, semata-mata bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, tetapi demi memastikan suara kebenaran dari Sang Sabda diperdengarkan secara jelas dan tajam.

Pada titik inilah, kasih bukan hanya ada dalam kalimat pujian, tetapi juga ada dalam kritikan konstruktif. Dan, sedikit banyak orang agak susah dikritik karena belum mampu melihat cinta Sang Sabda di dalamnya. Maka, tak heran kritikan Yesus bagi orang Farisi dan ahli Taurat berujung salib. Kritikan para Rasul berujung pada kematian. Kritikan Uskup Romero berakhir dengan tembakan yang mematikannya.

Para sahabat GPS yang terkasih.
Meskipun kita mengalami dukacita karena mewartakan perintah kasih, Yesus akan hadir dan mengubah dukacita kita menjadi sukacita. Yesus tetap menjadi alasan utama kebahagiaan kita dalam menyuarakan kabar Allah secara jelas dan tajam.

ROH KEBENARAN MENGANTAR KITA MENJADI ORANG BENAR (Renungan hari Rabu Paskah VI, Tahun A, 20 Mei 2020). YOHANES 16:12-15

Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; … (Yoh 16:13)

Para sahabat GPS yang terkasih.
Dosa membuat kita menjadi orang yang salah di hadapan Allah. Sebab dosa hanya mengarahkan pribadi pada kepentingan diri, sementara Allah lebih mengutamakan kasih yang mengarahkan manusia untuk mengasihi sesama dan mengasihi alam ciptaan.

Keterikatan kita pada dosa hanya mengantar kita pada kenikmatan dan kesenangan sementara. Sebab, tawaran kuasa kegelapan itu ibarat tawaran barang online, yang menarik dipandang, tetapi setelah barangnya tiba, yang ada hanyalah penyesalan.

Sebelum aneka penyesalan menghampiri kita, karena kecanduan kita pada dosa, Yesus mengajak kita untuk membuka hati pada karya Roh Kebenaran. Roh ini akan membantu kita memahami hal yang benar dan yang salah, serentak mendorong kita melakukan hal yang benar seturut kehendak Allah.

Para sahabat GPS yang terkasih.
Pada masa pandemi covid-19 ini, kita diundang untuk senantiasa membuka pintu hati pada bisikan Allah yang menghendaki kita melakukan tindakan kasih kepada diri dan sesama. Dengan menjaga diri dan sesama dari penularan virus ini, kita sudah menjadi orang benar di hadapan Allah.

ROH KUDUS SELALU MEMBUAT KITA BERSATU DALAM ALLAH (Renungan hari Selasa Paskah VI, 19 Mei 2020). YOHANES 16:5-11

Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; (Yoh 16:8)


Para sahabat GPS yang terkasih.

Akhir-akhir ini, Yesus mewartakan kehadiran Roh Kudus. Bagi Yesus, misi keselamatan tidak hanya berhenti pada peristiwa kebangkitan. Misi keselamatan terus berlanjut sampai akhir zaman. Oleh sebab itu, kehadiran Roh Kudus amat penting untuk menuntun para Rasul dan para murid Kristus pada kebaikan dan kebenaran hidup.

Kita menyadari bahwa kita memang sangat mudah berbalik pada dosa dalam keseharian hidup. Namun, kita bersyukur, karena kita memiliki Roh Kudus yang menginsafkan kita dari dosa. Dengan demikian, hidup tanpa dosa memang sebuah kemustahilan, tetapi siapa yang membuka hati pada karya Roh Kudus akan diantar pada pertobatan, pada persatuan dengan Allah.

Para sahabat GPS yang terkasih.

Yesus, dalam Injil hari ini, sangat mengharapkan kita sebagai Gereja bersatu dalam Dia. Perpisahan fisik bukanlah alasan untuk meninggalkan satu dengan yang lain. Jarak yang tak terseberangi  bukanlah alasan untuk melupakan kenangan kasih yang penuh pengorbanan. Physical distancing bukanlah alasan untuk tidak berkomunikasi lagi.

Pada masa pandemi covid-19 ini, Yesus meminta kita untuk insaf dari segala dosa untuk memperbaiki relasi kita dengan sesama dan dengan Allah. Physical distancing dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) adalah kesempatan bagi kita untuk merenung diri. Dan biarkan hidup dituntun oleh Roh Kudus kepada Sang Kebenaran.

MENJADI SAKSI KRISTUS (Renungan hari Senin Paskah VI, Tahun A, 18 Mei 2020). YOHANES 15:26-16:4a

Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. (Yoh 16:2)

Para sahabat GPS yang terkasih.

Kaum radikal selalu beranggapan, bahwa dengan membunuh para pengikut Kristus, mereka telah berbakti bagi Allah. Tak heran, kisah 13 Mei 2018, di mana tiga gereja di Surabaya diserang aksi bom bunuh diri menjadi pilihan mereka. Tentu, tindakan ini sudah berada di luar nalar agama apa pun. Sebab, agama selalu mengajarkan cinta kasih, kedamaian, penghormatan terhadap HAM dan alam ciptaan, serta cinta pada kehidupan.

Dalam Injil hari ini, kepada kaum radikal, Yesus secara tegas mengatakan bahwa mereka belum mengenal Allah, “Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.” (Yoh 16:3). Kepada orang yang belum mengenal Allah, kita diundang untuk tiada henti-hentinya bersaksi tentang Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang dalam kata dan perbuatan kasih.

Selain tantangan dari luar, dari para kaum radikal, kita sering kali juga berhadapan dengan tantangan dari dalam diri kita yang menggema dalam aneka keinginan yang melibas kepentingan bersama. Dan keinginan yang tak teratur ini jauh lebih berbahaya bagi kita, sebab ketika iman, pengharapan, dan kasih melemah, kekuatan ini merusak diri, sesama, dan merusak lingkungan. Kita pun menjadi pribadi radikal yang lebih membela keinginan diri daripada kehendak Allah, serta mengutamakan kepentingan diri daripada kepentingan bersama.

Para sahabat GPS yang terkasih.

Kita belum terlambat untuk menjadi saksi Kristus. Yesus menjanjikan Roh Kudus bagi kita untuk membarui diri kita dari keinginan yang tak teratur, serta mengarahkan hati kita pada Allah dan sesama.

BANGGA MENJADI MURID KRISTUS (Renungan Hari Sabtu, Paskah V, Tahun A, 16 MEI 2020. INJIL YOHANES 15:18-21

Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. (Yoh 15:18)

Para sahabat GPS yang terkasih.

Salah satu kekhasan penginjil Yohanes adalah membuat dikotomi yang jelas antara dunia dan surga. Dunia digambarkan sebagai sumber kegelapan dan surga sebagai sumber terang. Dunia yang keenakan hidup dalam kegelapan dikejutkan dengan kehadiran Sang Terang, Tuhan kita Yesus Kristus, yang berasal dari surga. Sedikit orang melihat kehadiran Kristus sebagai keberuntungan, tetapi banyak orang justru melihatnya sebagai kerugian. Bagi orang yang bersyukur memberi dirinya dibaptis, tetapi bagi orang yang merasa diri dirugikan justru memberi Diri Kristus untuk disalibkan.

Yesus mengingatkan para Rasul bahwa menjadi kesatria terang berarti siap diterima dan siap juga ditolak. Sebab, ada orang yang melihat kehadiran para Rasul sebagai keberuntungan karena dapat beralih dari gelap kepada terang, tetapi ada orang yang menilai kehadiran para Rasul justru sebagai penganggu kenikmatan hidup mereka dalam kegelapan.

Para sahabat GPS yang terkasih.

Kita juga tentu merasakan bahwa apa pun yang kita lakukan atas nama kebaikan dan kebenaran, tidak selamanya diterima dengan baik dan benar. Bukan tidak mungkin, sedikit banyak dari kita yang merasa kecewa, putus asa, bahkan mengalami kemurungan jasmani dan rohani, ketika perkataan dan perbuatan kita atas nama Sang Terang, ditentang oleh dunia yang mencintai kegelapan.

Namun, jauh sebelum kita merasakan rasa sakit itu, Yesus sudah merasakannya terlebih dahulu. Bahkan lebih sakit dari yang kita alami. Yesus mengajak kita untuk tabah, karena kita bukan berasal dari dunia. Yesus mengajak kita untuk jangan mengeluh, sebab kita memang seorang murid dari seorang Guru yang pernah dicaci maki, diludahi, dicambuk, mengalami penderitaan, bahkan wafat di salib. Yesus mengajak kita untuk terus berbangga dalam kesulitan, karena kita adalah para murid dari seorang Guru yang pernah bangkit dari antara orang mati dan telah mengalahkan kegelapan dunia dengan terang kebangkitan-Nya.

MENJADI SAHABAT KRISTUS (Renungan Hari Jumat, Paskah V, 15 Mei 2020). YOHANES 15:12-17

Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. (Yoh 15:14)

Para sahabat GPS yang terkasih.

Ciri khas iman adalah kepasrahan pada kehendak Allah. Ketika kita menyatakan diri sebagai orang yang beriman kepada Allah Tritunggal Mahakudus, maka kita menyatakan diri sebagai pribadi yang memasrahkan diri secara total kepada Allah.

Dari kisah Perjanjian Lama, Abraham dilihat sebagai teladan keberimanan yang teguh kepada Allah. Dia memasrahkan seluruh dirinya hanya pada Allah. Bahkan dia tidak segan-segan mempersembahkan putra tunggalnya, Ishak, menggantikan kurban bakaran.

Selanjutnya, dalam Perjanjian Baru, kita berjumpa dengan Kristus sendiri sebagai teladan kepasrahan yang tiada bandingnya. Dia memasrahkan seluruh diri-Nya hanya pada kehendak Bapa, sekalipun harus mengorbankan diri bagi kita, para sahabat-Nya.

Para sahabat GPS yang terkasih. Pada hari ini, Yesus mengajak kita untuk memasrahkan diri hanya pada kehendak Allah. Allah yang menghendaki kita hidup di dalam kasih, bukan di dalam dosa. Dalam kasih Allah, kita tidak lagi disebut sebagai hamba, tetapi sebagai sahabat Kristus. Asal saja kita melakukan apa yang diperintahkan Kristus bagi kita, “Kasihilah seorang akan yang lain.” (Yoh 15:17)

Pada masa pandemi covid-19, kita diundang untuk menjadi sahabat-sahabat Kristus yang tiada henti mengasihi sesama. Caranya: tidak menyebarkan hoaks yang menimbulkan ketakutan besar, tetapi menyebarkan kasih yang menimbulkan bela rasa, waspada, dan semangat hidup.

BERKAH DAN TANGGUNG JAWAB (Renungan Hari Kamis Paskah V, Tahun A, 14 Mei 2020) PESTA ST. MATIAS, RASUL. Injil: Yohanes 15:9-17

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. (Yoh 15:16)

Para sahabat GPS yang terkasih.

Pada hari ini, Gereja Katolik memperingati pesta St. Matias, Rasul. Dialah Rasul yang dipilih Tuhan, melalui undian yang dibuat oleh para Rasul, untuk menggantikan posisi Yudas Iskariot. Rasul ini dikenal oleh Gereja sebagai seorang Rasul yang setia, tekun dan bersemangat prihatin.

Santo Matias, dalam keseluruhan cara hidupnya, telah menunjukkan kepada Gereja, bahwa dia sungguh bertanggung jawab atas keputusan Allah yang telah memilihnya sebagai Rasul. Dia membaktikan diri hanya untuk Kristus, sampai dirinya menjadi ranting yang benar, yang menghasilkan banyak buah kebaikan dan kebenaran hidup.

Pada titik inilah, berkah dan tanggung jawab tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita. Setiap orang diberkahi Allah dengan kehidupan, kemampuan, bakat, posisi, dan jabatan. Namun, berkah dapat berakhir petaka, ketika kita lupa mengembangkan sikap tanggung jawab.

Yudas Iskariot merupakan pribadi yang terberkahi, tetapi gagal menghasilkan buah-buah kebaikan, ketika lorong hatinya tidak diisi oleh sikap tanggung jawab. Persis, aspek berkah dan tanggung jawab inilah yang selalu dijaga oleh St. Matias, sehingga dia layak menjadi sahabat Kristus, yang menghasilkan banyak buah.

Para sahabat GPS yang terkasih, selama kehidupan, kemampuan, bakat, posisi, atau jabatan kita kembangkan secara bertanggung jawab kepada Allah yang adalah sumber segalanya, kita telah menjadi sahabat Kristus dan menjadi St. Matias yang lain di zaman ini. Pasti buah kehidupan kita pun terasa manis, karena mengandung zat kebaikan, zat kebenaran, zat keindahan, dan zat cinta kasih. SEMOGA.